Makalah Model Pembelajaran Kontekstual

Daftar Isi

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………         1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang…………………………………………………………………………………         2

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pembelajaran Matematika Kontekstual…………………………………………       3
  2. Kunci Dasar Pembelajaran Kontekstual………………………………………….       5
  3. Komponen Pendekatan Kontekstual………………………………………………       6
    1. Metode dan Setrategi dalam Pembelajaran Kontekstual…………………..        8
    2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis CTL……………………………………..       10

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………        11
  2. Saran…………………………………………………………………………………………         12

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………….         13

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran………………………………………………………..       14

Lembar Kerja Siswa………………………………………………………………………………..        18

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1        Latar Belakang

Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas, 2003).

Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkannya melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang mampu bermutu dan berkualitas. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.          Pembelajaran Matematika Kontekstual

Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang dewasa ini mulai berkembang pesat, baik materi maupun kegunaan. Hal ini dikarenakan perlunya mengakomodasi keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Perkembangan ini diiringi dengan adanya pembaruan dalam kurikulum dalam pembelajaran di sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, saat ini mulai bermunculan penemuan atau pengembangan strategi pembelajaran. Penelitian telah banyak dilakukan untuk menemukan strategi pembelajaran yang tepat. Masing-masing strategi memiliki ciri khas dan keunggulan. Strategi pembelajaran yang saat ini sedang berkembang adalah strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Di Belanda pembelajaran ini dikenal dengan nama Realistic Mathematics Education (RME), sedangkan di Amerika lebih dikenal dengan sebutan Contextual Teaching and Learning (CTL).

Pendekatan kontekstual adalah pendekatan dengan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dan penerapannya dalam kehidupan (Nurhadi,2002:1). Pendekatan ini mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya. Maka pembelajaran matematika kontekstual adalah pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Proses pengembangan konsep dan gagasan pembelajaran matematika kontekstual bermula dari dunia nyata. Menurut Hauvel-Panhuizen (dalam Astuti:2003:12) dunia nyata tak ahnya berarti konkret secara fisik dan kasat mata, tapi juga dapat dibayangkan oleh alam pikiran. Hal ini berarti masalah yang digunakan dapat berupa masalah-masalah aktual (sungguh-sungguh ada dalam kehidupan siswa) atau masalah yang dapat dibayangkan oleh siswa.

Beberapa ciri khas dalam pembelajaran matematika kontekstual, antara lain, sebagai berikut:

  1. Titik awal proses pembelajarannya adalah penggunaan masalah berkonteks kehidupan nyata (kontekstual) yang konkret atau yang ada dalam alam pikiran siswa. Masalah-masalah yang ada dapat disajikan dengan cerita, lambang, model, atau gambar. Dalam hal ini siswa diharapkan dapat menemukan alat matematis atau model matematis sekaligus memahami konsep atau prinsipnya.
  2. Pembelajaran ini menghindari cara mekanik yaitu berfokus pada prosedur penyelesaian soal. Meskipun begitu belum sepenuhnya dapat diterapkan karena belum dapat dihilangkan, sehingga dalam pelaksanaannya masih dijumpai meskipun tidak dominan. Siswa diharapkan dapat menemukan alat atau model matematis untuk dapat menyelesaikan masalah.
  3. Siswa diperlakuakn sebagai peserta aktif dengan diberi keleluasaan menemukan sendiri atau mengembangkan alat, model dan pemahaman matematis melalui penemuan dengan bantun guru atau diskusi bersama teman. Menurut Slavin (dalam Astuti: 2003:19) kegiatan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan diskusi kelompok antara siswa dengan orang dewasa atau dengan teman sebaya. Interaksi tersebut dapat diakomodasikan melalui belajar dalam kelompok heterogen (kelompok kooperatif yang beranggotakan 2-6 orang).menurut Slavin hal ini dapat mengakibatkan siswa yang berkemampuan “lemah” dapat belajar dari pemikiran teman sebayanya yang berkemampuan “lebih”, sehingga belajar akan teras mudah.

 

  1. B.          Kunci Dasar Pembelajaran Kontekstual

The Northwest Regional Education Laboratory USA (dalam Asikin, 2003) mengidentifikasi adanya 6 kunci dasar yang menentukan kualitas dari pembelajaran konteksatual, yakni:

  1. Pembelajaran bermakna

Dalam pembelajaran bermakna, pemahaman, relevansi dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan sangat terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupan di masa mendatang.

  1. Penerapan pengetahuan

Jika siswa memahami apa yang dipelajari maka siswa mendapat menerapkannya dalam tatanan kehidupan.

  1. Berpikir tingkat tinggi

Siswa diminta untuk berpikir kritis dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.

  1.  Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan kepada standar

Isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standar lokal, nasional dan perkembangan IPTEK dan dunia kerja.

  1. Responsif terhadap budaya

Guru harus memahami dan menghormati nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, sesama rekan guru dan masyarakat tempat ia mendidik. Setidaknya ada empat perspektif yang harus diperhatikan yaitu individu siswa, kelompok siswa, tatanan sekolah dan tatanan masyarakat.

  1. penilaian autentik

Berbagai macam strategi penilaian digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang sesungguhnya meliputi: penilaian proyek dan kegiatan siswa, dan panduan pengamatan disamping memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif menilai pembelajaran mereka sendiri.

  1. C.      Komponen Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen, yaitu sebagai berikut.

  1. Contructivism (Kontruktivisme)

Proses pembelajaran mengarahkan siswa untuk membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif. Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Sedangkan guru bertugas untuk memfasilitasi sehingga pengetahuan menjadi bermakna dan relevan bagi siswa

  1.  Inquiry (Menemukan)

Inquirymerupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analisis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama pembelajaran dengan inquiry adalah sebagai berikut.

1)          Keterlibatan siswa secara maksimal, yang melibatkan mental intelektual sosial emosional siswa.

2)          Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran.

3)          Mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukannya dalam proses inquiry.

  1. Questioning (Bertanya)

Bertanya merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang berlangsung secara informatif untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Kegiatan bertanya akan mendorong siswa sebagai partisipan aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini menurut Nurhadi (2002) berguna untuk:

1)   Menggali informasi, baik administratif maupun akademis,

2)   Mengecek pemahaman siswa,

3)   Membangkitkan respon kepada siswa,

4)   Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa,

5)   Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa,

6)   Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru,

7)   Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa,

8)   Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

  1. Learning Community (Masyarakat belajar)

Konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan teman atau orang lain (Nurhadi,2002:15). Masyarakat belajar terjadi bila ada komunikasi dua arah yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.

  1. Modelling (Pemodelan)

Pemodelan dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu maksudnya adanya model yang ditiru. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh: cara melakukan pengukuran yang benar. Model tak hanya dari guru tapi juga dari siswa atau ahli.

  1. Reflection (Refleksi)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang dilakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima (Nurhadi,2002:18). Realisasinya dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut.

1)          Pernyataan langsung, tentang apa-apa yang diperoleh hari itu.

2)          Catatan atau jurnal di buku siswa.

3)          Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu.

4)          Diskusi.

5)          Hasil karya.

 

 

  1. Authentic Assessment (Penilaian yang sebenarnya)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran mengenai perkembangan belajar siswa (Nurhadi,2002:19). Penilaian yang dilakukan bukan hanya karena bisa menjawab serangkaian pertanyaan di atas kertas, tapi juga kemampuannya dalam mengaplikasikannya, inilah yang disebut authenthic. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa antara lain: proyek kegiatan dan laporannya, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, dan tes tulis.

 

  1. D.          Metode dan Setrategi dalam Pembelajaran Kontekstual

Kegiatan mengajar merupakan salah satu kegiatan mengatur agar tercipta suatu sistem lingkungan belajar. Caranya dengan memanfaatkan media lingkungan yang ada di sekitar sekolah sehingga proses belajar menjadi menyenangkan bagi siswa dan guru, agar tercipta suatu system lingkungan belajar. Perlu diupayakan proses belajar mengajar yang mengacu pada peserta didik yang dinamis, kreatif, suasana senang dan interaktif antara siswa dan guru. Dengan kata lain, proses belajar mengajar merupakan proses komulatif antara guru sebagai pemberi pesan, pengetahuan, keterampilan dan sikap serta budi pekerti yang bermoral tinggi dengan siswa sebagai peserta didik. Pada umumnya guru menyampaikan pesan dengan metode konvensional yaitu dengan ceramah. Dengan metode ini siswa sukar menangkap materi atau kehilangan kebermakanaannya meskipun materi yang diberikan sedikit dan tidak banyak memerlukan hafalan. Maka diperlukan suatu pendekatan yang sesuai, salah satunya adalah pendekatan kontekstual.

Lingkungan dan alat peraga dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran, selain itu yang lebih penting adalah penggunanan teknik dan metodologi pengajaran guru. Pendekatan kontekstual dapat menghilangkan kesan “seram” pada matematika, suasana mencekam, siswa pasif dan tidak interaktif. Dalam pelaksanaannya rancangan pembelajaran mengacu pada :

  1. pembelajaran dimulai dari hal konkret ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke yang sulit dan dari yang sederhana ke yang kompleks,
  2. siswa diarahkan memiliki kemampuan untuk menggunakan prinsip teorema Phytagoras dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan dan media yang tepat,
  3. pelaksanaan pembelajaran memperhatikan pengoptimalan media yang mengarah pada pelibatan siswa secara aktif baik fisik, mental maupun sosial.

Pembelajaran matematika kontekstual dapat menggunakan beberapa media antara lain: Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berkarakteristik CTL, kartu masalah dan pemanfaatan lingkungan belajar.

  1. LKS berkarakteristik CTL

LKS ini merupakan pendukung pelaksanaan pembelajaran. Pengerjaan LKS ini dilaksanakan secara kelompok. Media ini dibuat sebagaimana LKS yang sudah ada tapi berkarakteristik CTL, dimana siswa diarahkan untuk melakukan penemuan (inquiry) dan pemecahan masalah (problem solving)

  1. Kartu masalah

Media ini berupa kartu yang mencantumkan masalah untuk diselesaikan oleh siswa. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan sehari-hari yang berhubungan dengan penggunaan materi yang diajarkan. Penggunaan kartu ini dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan ruang, dan lingkungan belajar siswa tanpa menghilangkan esensinya. 

 

 

  1.  Lingkungan belajar

Penggunaan lingkungan belajar merupakan salah satu solusi dari keterbatasan prasarana belajar. Pada pelaksanannya digunakan beberapa benda yang ada di kelas sebagai media dan alat peraga. Penggunaannya dikaitkan dengan penggunaan LKS. Beberapa benda yang digunakan antara lain: meja, buku tulis, pigura dan lain-lain yang dimanfaatkan siswa.

  1. E.      Karakteristik Pembelajaran Berbasis CTL

Sistem pembelajaran berbasis CTL memiliki banyak sekali karakteristik diantaranya sebagai berikut:

 

  1. Kerjasama
  2. Saling menunjang
  3. Menyenangkan
  4. Tidak membosankan
  5. Belajar dengan bergairah
  6. Pembelajaran terintegrasi
  7. Menggunakan berbagai sumber
  8. Siswa aktif
  9. Sharing dengan teman
  10. Siswa kritis, guru kreatif
  11. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
  12. Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. A.      Simpulan
    1. Pembelajaran kontekstual artinya pembelajaran dengan pendekatan kontekstual atau suatu konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan materi dengansituasi dunia nyata, guru mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan (Nurhadi, 2001:1)
    2. Kunci pembelajaran kontekstual

 

a)     Pembelajaran bermakna

b)     Penerapan pengetahuan

c)     Berpikir tingkat tinggi

d)     Responsif terhadap budaya

e)     penilaian autentik

 

f)      Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan kepada standar

  1. Tujuh komponen ctl

 

a)     Konstruktivisme

b)     Inquiry

c)     Questioning

d)     Learning Community

e)     Modeling

f)      Reflection

g)     Authentic Assessment

 

  1. Pembelajaran matematika kontekstual dapat menggunakan beberapa media antara lain:
    1. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berkarakteristik CTL
    2. Kartu masalah
    3. Pemanfaatan lingkungan belajar.

 

 

 

 

 

  1. B.      Saran

1. Metode dan kreativitas guru perlu ditingkatkan dalam menyajikan materi pelajaran yang dihubungkan dengan kenyataan dan penerapannya sehari-hari.

2. Mempersiapkan saran pembelajaran yang memadai sesuai dengan tujuan pembelajaran dengan tetap memperhatikan relevansinya dengan kenyataan di lapangan.

3. Guru perlu memberikan motivasi pada siswa sebagai bentuk penguatan, baik berupa kata-kata maupun sikap.

4. Guru memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengungkapkan ide-idenya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Asikin. 2003. Pembelajaran Matematika Berdasar Pendekatan Kontruktivisme dan CTL, Makalah dalam Rangka Seminar TOT Guru se Jawa Tengah. Semarang

Darsono, M. 2000. Belajar Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press

Nurhadi. 2002. Contextual Teaching and Learning (CTL). Jakarta: Depdiknas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( R P P)

 

 

Nama Sekolah      :   SMP……………………..

Mata Pelajaran     : Matematika

Kelas / Semester   : IX / 1 (Ganjil)

Pertemuan             : Satu

Alokasi Waktu      : 4 jam pelajaran (2 pertemuan)

 

A. STANDAR KOMPETENSI : 1. Memahami kesebangunan bangun datar dan   penggunaannya dalam pemecahan masalah.

B. KOMPETENSI DASAR      : 1.1. Mengidentifikasi bangun – bangun datar     yang sebangun dan kongruen.

C. INDIKATOR

-      Pertemua Pertama dan Kedua

1. Dapat mendiskusikan dua bangun yang sebangun atau kongruen melalui model bangun datar.

2. Dapat mendiskusikan dua bangun datar sebangun atau kongruen.

D. TUJUAN PEMBELAJARAN

-      Pertemuan Pertama dan Kedua

1. Peserta didik dapat mendiskusikan dua bangun yang sebangun atau kongruen melalui model bangun datar.

2. Peserta didik dapat mendiskusikan dua bangun datar sebangun atau kongruen.

 

v Karakter siswa yang diharapkan :       Disiplin ( Discipline )

Rasa hormat dan perhatian ( respect )

Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility )

E. MATERI PEMBELAJARAN

Kesebangunan

F. METODE DAN MODEL PEMBELAJARAN

1. Model Pembelajaran : Pembelajaran Kontekstual

2. Metode Pembelajaran : Diskusi, Tanya Jawab dan Pemberian Tugas.

 

 

G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

  • Ø Pertemuan Pertama dan Kedua.        

Pendahuluan

- Apersepsi : Peserta didik diajak untuk memperhatikan pengubinan lantai, atap atau halaman.

- Motivasi : 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

 2. Guru menginformasikan metode pembelajaran yang akan digunakan

Kegiatan Inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F Meminta Peserta didik untuk mencermati unsur-unsur yang terdapat pada dua bangun datar sebangun.

F menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

F memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

F melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran;

 

  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

F memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kontekstual dan kolaboratif;

F memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

F memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

 

 

  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

F memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,

F memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,

F memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

  • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
  • membantu menyelesaikan masalah;
  • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
  • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
  • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

 

Penutup

  • Kegiatan Akhir

      Dalam kegiatan penutup, guru:

F bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;

F melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

F memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajan.

 

 

H. SUMBER PEMBELAJARAN

  • Lingkungan
  • Matematika 1 untuk kelas IX SMP dan Mts.
  • Sumber lain yang relevan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I. Penilaian Hasil Belajar

Indikator Pencapaian   Kompetensi

Penilaian

Teknik

Bentuk Instrumen

Instrumen/ Soal

  • Mendiskusikan dua bangun yang sebangun atau kongruen melalui model bangun datar

 

 

 

 

  • Mengidentifikasikan dua bangun datar sebangun atau kongruen

Tes tertulis

 

 

 

 

 

Tes tertulis

Uraian

 

 

 

 

 

Daftar pertanyaan

  • Bangun-bangun manakah yang sebangun dan manakah yang kongruen? Mengapa?

     1                2           3

 

6                 4                        5

                                        

  • Apakah kedua bangun berikut ini kongruen? Mengapa?

 

   

 

 

                                                                                                           

           

Mengetahui,

Kepala SMP/MTs …………….

 

 

 

( ………………………………………………… )

NIP/NIK :…………..……………….

 

………, ……, …………… 20…

Guru Mapel Matematika.

 

 

 

( …………………………………….. )

NIP/NIK :…….…………….

 

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

 

 

  1. Perhatikan gambar di bawah, jika PC = 3 cm, AC = 9 cm dan AB = 15 cm, maka panjang PQ adalah …

 

C

     

                                      P                Q      

  

                                                                         

                                    A                                   B

 

 

                                                                                C

2       Perhatikan gambar di samping !

Panjang AB = 20 cm, DE =15 cm  C

dan CD = 24 cm, maka panjang

CA adalah … cm                                  D                       E

 

                              A                                  B

 

3       Perhatikan gambar segi tiga         C

 ABC di samping ini !

DE // AB, DE = 8 cm,            6 cm

AB = 15 cm, CD = 6 cm.

Panjang AC adalah …          D   8 cm E

 

 

 

                                          A     15 cm      B

 

 

About these ads

About desykartikaputri

simple PerSoN..hehehe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s