Makalah Model Pembelajaran STAD ( Student Teams Achievement Division )

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION

(STAD)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika

Dosen Pengampu : Muhammad Prayito,S.Pd.,M.Pd.

 

Oleh :

Kelas 3F

Anggota Kelompok:

  1. Tulus Khusnul                     (11310234)
  2. Nur Khotibul Umam           (11310243)
  3. Novita Ayuning Tyas          (11310245)
  4. Sofiatun Kasanah                (11310260)

                                           

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

IKIP PGRI SEMARANG

2012

 

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

  1. PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………….  1
  2. RUMUSAN MASALAH ……………………………………………………………………………..  2

BAB II PEMBAHASAN

  1. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF………………………………………………….. 3
  2. MODE PEMBELAJARAN  KOOPERATIF TIPE STAD …………………………………  4
  3. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD ………………………………………………………………………….  7

BAB III PENUTUP

  1. KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………… 8
  2. SARAN……………………………………………………………………………………………………… 8

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………… 9

LAMPIRAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBEAJARAN (RPP)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Kegiatan belajar matematika efektif apabila tujuan pembelajaran matematika  dapat dicapai dengan baik. Guru harus menguasai materi belajar dan dapat memilih metode mengajar yang cocok, menerapkan strategi serta  menciptakan  suasana yang mendukung pada proses belajar mengajar.

Guru harus tepat dalam memilih metode dan strategi pembelajaran. Guru yang kurang menguasai materi tentu akan kesulitan di dalam mengajar. Hal ini dapat mengakibatkan siswa kurang mengerti atau mamahami tentang materi yang disampaikan sehingga  siswa menjadi malas untuk belajar dan menganggap materi tersebut sulit.

Selama ini pembelajaran yang diterapkan di sekolah adalah pembelajaran  secara konvensional, pembelajaran ini cenderung bersifat searah yaitu peran guru lebih aktif dibanding peran siswa. Sehingga dalam hal ini siswa kurang bisa mengembangkan kreatifitasnya dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu digunakan metode pembelajaran yang bertujuan untuk mengaktifkan siswa, dimana siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit serta dapat saling mendiskusikan masalah-masalah dengan temannya.

Model pembelajaran kooperatif yaitu belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, terdiri dari suku atau ras yang berbeda jenis kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan, kemampuan tinggi, rendah dan sedang. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang, keberhasilan dalam kelompok sangat penting dalam pembelajaran ini sehingga anak yang lemah akan mendapat bantuan dari yang lebih pandai  dan sebaliknya, anak yang pandai akan dapat mengembangkan kemampuannya dengan mengajarkan materi pada temannya yang kemampuannya rendah. Dalam hal ini, model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan tipe yang lebih sederhana dibandingkan tipe–tipe yang lain.

Interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok-kelompok akan dapat menjadikan pembelajaran matematika lebih bermakna. Jadi materi pelajaran yang dipelajari siswa lebih mendalam dan meningkatkan minat belajar siswa serta prestasi belajar siswa.

Fenomena yang terjadi di dalam pembelajaran matematika di sekolah saat ini adalah banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika membosankan, tidak menarik bahkan penuh misteri. Ilmu matematika dirasa sukar, sulit dan tidak nampak kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini adalah sebuah persepsi yang negatif terhadap matematika. Sementara itu ada juga siswa yang sangat menikmati keasyikan bermain dengan matematika, mengagumi keindahan matematika dan tertantang untuk memecahkan setiap soal-soal matematika. Kenyataan ini adalah sebuah persepsi yang positif terhadap matematika. Masalahnya yang terjadi saat ini adalah persepsi negatif lebih banyak dari pada persepsi positifnya

Dari pernyataan di atas guru hendaknya memilih dan menggunakan pendekatan yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara fisik, mental maupun sosial, sehingga proses pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Karena dalam pembelajaran matematika, penggunaan model dan pendekatan yang tepat sangat diperlukan.

Bangun ruang  merupakan salah satu materi pokok dalam pelajaran matematika. Materi tersebut dipilih dengan alasan bahwa konsep bangun ruang lebih khususnya limas sulit dipahami siswa. Agar siswa ikut aktif dalam belajar matematika, maka diperlukan pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Sehingga materi tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan dipahami oleh siswa tersebut.

  1. B.    Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran kooperatif ?
  2. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
  3. Apa saja kelebihan dan kekurangan model pembelajran kooperatif tipe STAD ?
  4. Apa saja langkah-langkah yang ada dalam tipe pembelajaran STAD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Model Pembelajaran Kooperatif

                                                  

Model Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori belajar konstruktivitisme yang lahir dari Piaget dan Vigosky . Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak . (Ratna,1988: 181 dalam Rusman,2011:201)

Dalam model pembelajaran kooperatif , guru yang lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi , dengan catatan siswa sendiri . Guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa , tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya . Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka , ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri .

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati,2002:25dalam Rusman,2011:203) . Dalam sistem belajar  yang kooperatif , siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya . Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab , yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar . Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri .

Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang berisfat heterogen.

Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic comunication).

Pada pembelajaran kooperatif di yakini bahwa keberhasilan peserta didik tercapai jika setiap anggota kelompoknya berhasil.(Woolfolk, 1993 dalam Budiyono dkk, 2012:13)

Lima unsur esensial yang di tekankan dalam pembelajaran kooperatif yaitu, (a) saling ketergantungan positif, (b) interaksi berhadapan (face to – face interaction), (c) tanggung jawab individu (individual reponsibility), (d) ketrampilan sosial (social skills), (e) terjadi proses dalam kelompok (group processing).

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta di anjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan Slavin (1995) dinyatakan bahwa (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis memecahkan masalah dan meintegrasikan pengetahuan dan pengalaman.

  1. Model kooperatif tipe student teams achievement division (STAD)

Model ini di kembangkan ole Robert Slavin dan teman – temannya di Universitas John Hopkin.

Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis  kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajarn dan siswa – siswa  di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis peseorangan tentang materi ersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain. Nilai – nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata – rata mereka  sendiri yang diperoleh sendrinya, dan nilai – nilai itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa merek capai atau seberpa tinggi nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya. Nilai – nilai ini kemudian di jumlah untuk mendapat nilai kelompok, dan kelompok  yang dapat mencapai kriteria tertentu bisa mendapatkan sertifikat atau hadiah – hadiah yang lainnya.

Slavinmemaparkan bahwa: “gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang di ajarkan guru”. Jika siswa menginginkan kelompok memperoleh hadiah, mereka harus membantu teman sekelompok mereka dalam mempelajari pelajaran. Mereka harus mendorong teman sekelompok untuk melakukan yang terbaik, memperlihatkan norma – norma bahwa belajar itu penting, berharga dan menyenangkan. Para siswa diberi waktu untuk bekerja sama setelah pelajaran diberikan oleh guru, tetapi tidak saling membantu ketika menjalani kuis, sehingga setiap siswa harus menguasai materi itu (tanggunggung jawab perseorangan ). Para siswa mungkin bekerja berpasangan dan mungkin bertukar jawaban, mendiskusikan ketidaksamaan, dan saling membantu satu sama lain, mereka bisa mendiskusiakan pendekatan – pendekatan untuk memecahkan masalah itu, atau merekabisa saling memberikan pertanyaan tentang isi dari materi yang mereka pelajari itu.

Langkah – langkah pembelajaran kooperatif model STAD

  1. Penyampaian tujuan dan motifasi

Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar.

  1. Pembagian kelompok

Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 4 – 5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keagamaan) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, rasa atau etnik.

  1. Presentase dari Guru

Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersbut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pernyataan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikusai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara – cara mengerjakannya.

  1. Kegiatan belajar dalam Tim (kerja tim)

Siswa belajar dalam kelompoknyang telah dibentuk. Guru menyiakan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok , sehingga semua anggota menguasai dan masing – masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperluan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.

  1. Kuis (Evaluasi)

Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pmberian kuis tentang materi yang dipelajari  dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini ilakukan untuk menjamin agar siswa secara individual bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.

  1. Penghargaan prestasi tim

Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan memberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :

  1. Menghitung skor individu

Menurut Slavin (Trianto, 2007:55), untuk menghitung perkembangan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel penghitungan perkembangan skor individu

No.

Nilai Tes

Skor Perkembangan

1.

2.

3.

4.

5.

Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar

10 sampai 1 poin di bawah skor dasar

Skor 0 sampai 10 poin di atas skor dasar

Lebih dari 10 poin di atas skor dasar

Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan dasar)

0 poin

10 poin

20 poin

30 poin

30 poin

 

  1. Menghitung Skor Kelompok

Skor kelompok dihitung dengan membuat rata – rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesusai dengan rata – rata skor perkembangan kelompok sebagaimana dalam tabel 7.3 sebagai berikut:

No.

rata – rata skor

Kualifikasi

1.

 

 N

 N

16  N

 N

Tim yang baik (good team)

Tim yang baik sekali (great team)

Tim yang istimewa (super team)

 

  1. Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok

Setelah masing – masing kelompok satu tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing – masing kelompok sesuai dengan prstsinya (kiteria tertentu yang ditetapkan guru).

STAD merupakan suatu metode generik tentang pengaturan kelas dan bukan metode pengajaran komprehensif untuk subjek tertentu, guru menggunakan pelajaran dan materi mereka sendiri. Lembar tugas dan kuis disediakan bagi kebanyakan subjek sekolah untuk siswa, tetapi kebanyakan guru meggunakan materi mereka sendiri untuk menambah atau mengganti materi – materi ini.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif  Tipe STAD

Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Roestiyah (2001:17) , yaitu:

  1. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:
    1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
    2. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
    3. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
    4. Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi.
    5. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain.
    6. Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:
      Menurut Dess (1991) Pembelajaran STAD juga mempunyai kekurangan – kekurangan :
      1. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum
      2. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif
      3. Menuntut sifat tertentu dari siswa , misalnya sifat suka bekerja sama

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan
    1. Pembelajaran kooperatif adalah setrategi belajar dimana siswa dapat belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.
    2. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam setting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
    3. Pada intinya konsep dari model pembelajaran tipe STAD adalah guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.
    4. Model pembelajaran tipe STAD mempunyai banyak kelebihan sehingga dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan.
    5. Saran
      1. Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilan proses dan keterampilan kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
      2. Agar pembelajaran-pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta ketrampilan proses yang akan dikembangkan.
      3. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan prestasi dan keaktifan  siswa belajar pada pokok bahasan menghitung permukaan limas.
      4. Untuk menambah motivasi anak didik sebaiknya sehabis mengadakan kuis, guru diharapkan memberikan penghargaan baik berupa nilai maupun barang.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Rusman.2011.Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionaisme Guru.Jakarta:Rajawali Pers.

Budiyono,Budi Usodo &Yemi Kuswardi.2012.Model,Media dan Evaluasi Pembelajaran Matematika.Surakarta:UNS

Pembelajaran Kooperatif  Tipe STAD . 2011 . http://www.sarjanaku.com ( 24 September 2012 )

Paul M La Bounty dkk . 2011 . International Society of Sports Nutrition position stand: meal frequency.springer.com (20 September 2012)

Irma Pujiati . 2008 .PeningkatanMotivasidanKetuntasanBelajarMatematikaMelaluiPembelajaranKooperatifTipe  STAD  . Jurnal Ilmiah Kependidikan, Vol. I, No. 1

Mega Irhamna. 2009 . Cooperative Learning dengan Model STAD pada Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP Negeri 2 Delitu. Jurnal Penelitian Kependidikan , Tahun  19,Nomor 2, Oktober 2009

Nanik Pudjowati . 2009 . Implementasi Model STAD (Student Teams Achievement Divisions )SebagaiUpayaPeningkatanApresiasi HAM PadaPesertaDidikKelas VII SMP 1. JurnalLemlit, Volume 3, Nomer 2, Desember 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

                                                Mata Pelajaran                       : Matematika

Alokasi waktu                         : 50 menit

Kelas/Semester                       : VIII/2

Pertemuan                               : 8

Sekolah                                   : SMP

 

  1. Standar Kompetensi              : Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan

 bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.

  1. Kompetensi Dasar                 : Menghitung luas permukaan dan volume kubus,

balok,  prisma dan limas.

  1. Indikator                                : Menggunakan rumus untuk menghitung luas

Permukaanlimas tegak.

  1. D.    Tujuan pembelajaran
    1. Peserta didik dapat menggunakan rumus untuk menghitung luas permukaan dan volume limas tegak, melalui pembelajaran kooperatif learning dengan model STAD.

v Karakter siswa yang diharapkan :   Disiplin ( Discipline )

Rasa hormat dan perhatian ( respect )

Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility )

  1. E.    Topik
    1. Menghitung luas permukaan (sisi) limas tegak.
    2. F.     Metode dan Model
      1. Pendekatan/ Model                       : Pembelajaran kooperatif learning/ STAD
      2. Metode                                          : Ceramah dan tanya jawab
      3. G.   Langkah-langkah Pembelajaran

No

Kegiatan

Waktu

1

Pendahuluan

  1. Guru Hadir tepat waktu.
  2. Guru menyiapkan kondisi fisik siswa seperti :memberi salam, memimpin berdoa, mengecek kehadiran peserta didik untuk mengikuti pembelajaran.
  3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  4. Guru memberi motivasi dengan bertanya kepada siswa dengan memberi contoh bertanya pernahkah kalian berkemah dan mendirikan tenda?. Guru memberi apersepsi dan  mengajukan pertanyaan .

 

 

 

 

 

 

5 menit

2

Kegiatan Inti

  1. Guru meminta peserta didik untuk mempelajari luas permukaan limas.
  2. Dikelas guru membentuk kelompok belajar yang heterogen dan mengatur tempat duduk siswa agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap muka yang terdiri dari 4 orang dan 5 orang.(Student Teams Achievment Division)
  3. Guru memberikan lembar kerja kepada masing-masing kelompok.
  4. Bila ada siswa yang tidak dapat mengerjakan LKPD, teman satu kelompok bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada temannya yang tidak bisa.
  5. Berikan kunci jawaban LKPD agar siswa dapat mengecek pekerjaan sendiri.
  6. Guru berkeliling untuk mengawasi kinerja kelompok.
  7. Guru bertindak sebagai narasumber atau fasilitator jika diperlukan.
  8. Setelah selesai mengerjakan LKPD secara tuntas, guru memberikan kuis kepada seluruh siswa, para siswa tidak boleh bekerja sama dalam dalam mengerjakan kuis, guru langsung membahasnya.
  9. Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang menjawab benar dan kelompok yang dapat mendapat skor tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

35menit

3

Penutup

  1. Bersama-sama peserta didik membuat rangkuman/simpulan pelajaran.
  2. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
  3. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
  4. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.

 

 

 

 

 

 

10 menit

 

 

 

  1. H.    Sumber Belajar
    1. Buku Ajar Matematika SMP Kelas VIII terbitan PT . Esis
    2. Buku Matematika konsep dan aplikasinya BSE karangan Dewi Nuharini , SE
    3. Alat Peraga Limas

 

  1. I.      Penilaian
    1. Teknik                                  : Tes tertulis
    2. Instrumen                             : Pilihan ganda

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik

Bentuk Instrumen

Instrumen/Soal

  1. Menghitung luas permukaan limas.

Tes tertulis

Uraian

  1. Bagian atas sebuah tenda berbentuk limas persegi, jika panjang sisi pada persegi 12 m dan tinggi limas 8 m. Hitunglah kain yang dibutuhkan untuk menutup atap tenda tersebut!

 

                                                               Semarang,24 September 2012

                                                                                                        Tertanda

                                                                                                   Guru Matematika Kelas 8

 

 

                                                                                                        Pengajar

 

 

 

 

Bahan Ajar

 

Luas Permukaan Limas

E

 

Sama halnya dengan prisma, luas permukaan limas pun dapat diperoleh dengan cara menentukan jarring-jaring limas tersebut. Kemudian, menjumlahkan luas bangun datar dari jarring-jaring yang terbentuk. Untuk lebih jelasnya, coba kamu pelajari uraian berikut

 
   

 

 

.

 
   

 

 

 

 

 

 

E

 

Gambar 8.32 : Limas segiempat E.ABCD dan jaring- jaringnya.

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.32 memperhatikan sebuah limas segiempat E.ABCD beserta jaring-jaringnya.

Dengan demikian, luas permukaan limas tersebut adalah sebagai berikut.

Luas permukaan limas E.ABCD        = luas ABCD + luas ∆ABE + luas  ∆BCE

   + luas ∆ CDE  + luas ∆ ADE

= luas ABCD + ( luas ∆ABE + luas  ∆BCE

   + luas ∆ CDE  + luas ∆ ADE )

Secara umum, limas permukaan limas adalah sebagai berikut.

Luas permukaan limas = luas alas + jumlah luas sisi-sisi tegak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD)

Nama Sekolah            : SMP

Mata Pelajaran           : Matematika

Kelas                           : VIII

Semester                     : 2

  1. A.    Standar Kompetensi              : Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan

 bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.

  1. B.    Kompetensi Dasar                 : Menghitung luas permukaan dan volume kubus,

 balok,  prisma dan limas.

  1. C.    Indikator                                : Menggunakan rumus untuk menghitung luas

 permukaan limas tegak.

  1. D.    Tujuan pembelajaran
    1. Peserta didik dapat menggunakan rumus untuk menghitung luas permukaan limas tegak, melalui pembelajaran kooperatif learning dengan model STAD.

Soal :

  1. Perhatian gambar limas beraturan disamping! Jika panjang AB = 18 cm, TE =12 cm, hitunglah :
    1. Tinggi segitiga pada sisi tegak
    2. Luas selimut limas
    3. Luas alas limas
    4. Luas permukaan limas

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunci Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD)

  1. Perhatian gambar limas beraturan disamping! Jika panjang AB = 18 cm, TE =12 cm, hitunglah :
    1. Tinggi segitiga pada sisi tegak
    2. Luas selimut limas
    3. Luas alas limas
    4. Luas permukaan limas

 

 

Penyelesaian  :

Diketahui :      AB = 18 cm

                        TE = 12 cm

Ditanya :                                                                                     

 

Tinggi pada sisi tegak = TF = ?

 

TF2      = TE2 + EF2

            = 122 + 92

            =144 + 81

            =

            =15

  1. Luas segitiga TBC            =   x BC x TF

=    x 18 x 15

= 9 x 15

= 135 cm2

  1. Luas selimut limas           = L ∆ x L ∆ TBC

= 4 x 135

= 540 cm2

  1. Luas alas limas     = luas persegi

= ABxBC

= 18 x 18

=334 cm2

  1. Luas permukaan limas     = luas alas + luas selimut limas

= 334

= 874

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuis Luas Permukaan Limas

 

  1. Diketahui sebuah limas T.PQRS seperti pada gambar di samping . Tentukan :
    1. Panjang TU
    2. Panjang TV
    3. Luas alas
    4. Luas permukaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Perhatikan gambar berikut :

Dari gambar limas O.KLMN tersebut , tentukan :

  1. Luas alas
  2. Luas sisi tegak
  3. Luas permukaan

 

 

 

 

 

Penyelesaian Kuis Luas Permukaan Limas

 

a. TU merupakan sisi miring segitiga siku-siku TOU . Menurut Teorema Pythagoras

 

           

            =

           

 

Jadi , panjang TU adalah 10cm

b. TV merupakan sisi miring segitiga siku-siku TOV . Menurut Teorema Pythagoras

 

                         

                         = 64 + 9

                         = 73

             TV      =               Jadi , panjang TV =

  1. Luas alas = Luas sisi PQRS

   =

   =

   = 72                   Jadi , Luas alas limas T.PQRS adalah 72.

  1. Luas permukaan limas = Luas alas + luas semua sisi tegak

= luas PQRS + (

=

 

 

         Jadi , Luas Permukaan Limas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

a. Luas alas limas      = Luas persegi KLMN

=

=

=                 Jadi , Luas alas limas O.KLMN adalah 40

  1. Luas sisi tegak =

=

=

= 80

  1. Luas permukaan Limas = Luas alas + Luas sisi tegak

   = 40 + 80

   =120      Jadi Luas Permukaan Limas adalah 120

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About desykartikaputri

simple PerSoN..hehehe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s